MAKALAH
ILMU BUDAYA DASAR

Fakultas Psikologi
Universitas Gunadarma
2014
1. Pengertian Harapan
Jessica Phoibe Tampubolon
1PA 18
1PA 18
15514649
Universitas Gunadarma
2014
BAB 12
& BAB 13
Manusia Dan Kegelisahan
Manusia Dan Kegelisahan
1.
Pengertian Kegelisahan
Kegelisahan berasal
dari kata gelisah , yang berarti
tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir,
tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal
yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa khawatir,
tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.
Kegelisahan hanya dapat
diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak - gerik seseorang dalam situasi
tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya,
misalnya berjalan mundar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala,
memandang jauh ke depan sambil mengepal-ngepalkan tangannya, duduk termenung
sambil memegang kepalanya, duduk dengan wajah murung atau sayu, malas bicara, dan
lain-lain.
Kegelisahan merupakan
salah satu ekspresi dari kecemasan. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari,
kegelisahan juga diartikan sebagai kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan.
Masalah kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang
secara definisi dapat disebutkan, behwa seseorang mengalami frustasi karena apa
yang diinginkan tidak tecapai.
Menurut Sigmund Freud,
kecemasan dibagi menjadi tiga macam, yakni :
1) Kecemasan Obyektif atau Kenyataan.
Kecemasan obyektif adalah suatu pengalaman
perasaan sebagai akibat pengamatan suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah
sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya.
Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam
arti kata, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia
berada di dekat dengan benda- benda tertentu atau keadaan tertentu dari
lingkungannya.
2) Kecemasan Neorotis (syaraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang
bahaya dari naluriah.
Menurut Sigmund Freud sendiri kecemasan dibagi menjadi 3 macam, yakni :
(1) Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan
timbul karena orang itu takut akan bayangan nya sendiri atau takut akan id-nya
sendiri, sehingga menekan dan menguasai ego. Kecemasan semacam ini menjadi
sifat dari seseorang yang gelisah, yang selalu mengira bahwa seesuatu yang
hebat akan terjadi.
(2) Bentuk ketakutan yang tegang dan irrasional (phobia). Sifat khusus
dari phobia adalah bahwa intensitif ketakutan melebihi proporsi yang sebenarnya
dari obyek yang ditakutkannya.
(3) Reaksi takut lainnya adalah gugup atau setengah gugup. Reaksi ini
munculnya secara tiba-tiba tanpa adanya provokasi yang tegas. Reaksi gugup ini
adalah perbuatan meredakan diri yang bertujuan untuk membebaskan seeseorang
dari kecemasan neuritis yang sangat menyakitkan dengan jalan melakukan sesuatu
yang dikehendaki oleh id meskipun ego dan superego melarangnya.
3) Kecemasan Moril
Kecemasan
moril disebabkan karena pribadi seseorang . Tiap pribadi memiliki bermacam
macam emosi antara lain : iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, dan lain
lain. Sifat - sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji , bahkan
mengakibatkan manusia akan merasa khawatir, takut, cemas, gelisah dan putus
asa.
2. Sebab
– sebab Orang Gelisah
v Gelisah terhadap dosa-dosa dan pelanggaran ( yang telah dilakukan )
v Gelisah terhadap hasil kerja ( tidak memenuhi kepuasan spiritual)
v Takut akan kehilangan milik ( harta dan jabatan )
v Takut menghadapi keadaan masa depan
( yang tidak disukai )
3.
Usaha – usaha Mengatasi Kegelisahan
§ Dengan memerlukan sedikit pemikiran yaitu,
pertama kita menanyakan pada diri kita sendiri (instropeksi),akibat yang paling
buruk yang bagaimanakah yang akan kita tanggung atau yang akan terjadi,mengapa
hal itu terjadi,apa penyebabnya dan sebagainya.
§ Kita bersedia menerima sesuatu yang terjadi
pada diri kita dengan rasa tabah dan senang hati niscaya kecemasan tersebut
akan sirna dari jiwa kita. Bersamaan berjalannya waktu kita dapat mencoba untuk
memperkecil dan mengurangi keburukan-keburukan akibat timbulnya kecemasan
tersebut dalam jiwa kita.
§ Berdoa kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh
sabar,tabah,senang dan ikhlas sehingga Ia mau mengabulkan permohonan kita dari
perasaan kecemasan ini,sebab Tuhan adalah yang paling Maha Pemurah, Maha
Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagi umatnya yang mau berdoa dan
memohon kepadaNya.
4.
Keterasingan
Keterasingan berasal
dari kata terasing, dan kata itu adalah
dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang,
sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari
yang lain atau terpencil. Jadi kata keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan
dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain. Terasing
atau keterasingan adalah bagian hidup manusia.
Penyebab orang berada
dalam posisi terasingkan adalah perilakunya yang tidak dapat diterima atau
tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat atau kekurangan yang ada pada diri
seseorang , sehingga ia tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam
masyarakat.
5.
Kesepian
Kesepian berasal dari
kata sepi artinya sunyi, lengang,
tidak ramai, tidak ada orang atau kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak
pembeli, tak ada apa-apa, dan sebagainya. Setiap orang pernah mengalami
kesepian, karena kesepian bagian hidup manusia, lama rasa sepi itu bergantung
kepada mental orang dan kasus penyebabnya.
Sebab-sebab terjadinya kesepian :
Menurut Middlebrook (1980), ada dua faktor penyebab
dari kesepian, yaitu :
I.
Faktor
Psikologis
a) Existential Loneliness
Kesepian ini disebabkan oleh kenyataan adanya
keterbatasan keberadaan manusia yang disebabkan oleh terpisahnya seseorang
dengan orang-orang lain, sehingga tidaklah mungkin baginya untuk berbagi
perasaan dan pengalamannya dengan orang lain.
b) Pengalaman traumatis hilangnya orang-orang
terdekat
Hilangnya seseorang yang sangat dekat dengan
individu secara tiba-tiba tanpa bisa dihindari seringkali dianggap sebagai
penyebab kesepian.
c) Kurangnya dukungan dari orang lain
Kesepian dialami oleh mereka yang merasa tidak
sesuai dengan lingkungannya. Mereka yang mengalami kesepian manganggap diri
mereka sebagai orang yang diremehkan dan ditolak lingkungannya.
d) Kurangnya rasa percaya diri
Meskipun individu dapar melakukan hubungan
sosial dengan baik, namun ia merasa bahwa lingkungan disekitarnya kurang
melibatkannya, sehingga menyebabkan individu merasa kesepian, ia hanya dapat
berhubungan sosial secara formalitas saja.
II.
Faktor
Sosiologis
a) Takut dikenal orang lain
Individu merasa takut dikenal oleh orang lain,
sehingga hal tersebut menghilangkan kesempatannya untuk berhubungan dekat dengan
orang lain.
b) Kehidupan di rumah
Rutinitas di rumah seperti adanya jam makan,
keributan di rumah dan kebiasan lainnya juga akan menyebabkan seseorang merasa
kesepian karena kejenuhan.
c) Perubahan pola-pola dalam keluarga
Kehadiran orang lain dalam keluarga akan
menyebabkan terganggunya hubungan dengan anggota keluarga lain.
6.
Ketidak Pastian
Ketidakpastian berasal
dari kata tidak pasti artinya tidak
menentu (pikirannya) atau mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah dan
kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua akibat pikirannya yang tidak dapat
konsentrasi. Ketidak konsentrasian itu disebabkan oleh berbagai sebab, yang paling utama adalah
kekacauan pikiran.
Ketidak pastian atau
ketidak tentuan adalah bagian hidup manusia. Setiap orang hidup pasti pernah
mengalaminya. Bahkan anak kecil sekalipun pernah mengalaminya, misalnya, ketika
anak kecil ditinggalkan ibunya, ia menangis kebingungan. Kebingungan itu
menunjukan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
7.
Usaha – usaha Mengatasi Ketidak Pastian
Beberapa sebab orang
tak dapat berpikir dengan pasti adalah :
1)
Obsesi
Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu
adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang
hal-hal yang tak menyenangkan, atau penyebab lain yang tidak diketahui oleh
penderita. Misalnya selalu berpikir ada orang yang ingin menjatuhkan dia.
2)
Phobia
Phobia adalah rasa ketakutan yang tak
terkendalikan atau tidak normal terhadap sesuatu hal atau kejadian, tanpa
diketahui sebab-sebabnya.
3)
Kompulasi
Kompulasi ialah adanya keraguan yang sangat
mengenai apa yang telah dikerjakannya, sehingga ada dorongan yang tidak
disadari untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali.
4)
Histeria
Histeria ialah neurose jiwa yang disebabkan
oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan
syaraf, tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain.
5)
Delusi
Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena
berdasarkan keyakinan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar
kenyataan dan tidak sesuai dengan pengalaman. Delusi ini ada tiga macam, yaitu
:
1) Delusi persekusi : Menganggap adanya keadaan
yang jelek di sekitarnya.
2) Delusi keagungan : Menganggap dirinya orang
penting dan besar. Orang seperti ini biasanya gila hormat dan menganggap orang
di sekitarnya tidak penting. Akibatnya, semua orang menjauhinya. Jadi, hampir
sama dengan delusi persekusi.
3) Delusi melancholis : Merasa dirinya bersalah,
hina dan berdosa. Hal ini dapat mengakibatkan buyutan atau dikenal dengan nama
delirium trements, hilangnya kesadaran dan menyebabbkan otot-otot tak terkuasai
lagi. Ia kehilangan ingatannya sama sekali, mengalami tensi tinggi dan
mengingat sesuatu yang belum pernah dialami.
6)
Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan panca indera.
Dengan sugesti diri, orang dapat juga berhalusinasi. Halusinasi buatan, misalnya
dapat dialami oleh orang yang mabuk atau pemakai obat bius. Kadang-kadang
karena halusinasi, orang merasa mendapat tekanan-tekanan terhadap
dorongan-dorongan itu menemukan sasarannya. Ini tampak pada perbuatan-perbuatan
penderita (penderita itu dapat menyadari perbuatannya itu, tetapi tidak dapat
menahan rangsangan khayalan sendiri).
7)
Keadaan
emosi
Dalam keadaan tertentu, seseorang sangat
dipengaruhi oleh emosinya. Jika emosi telah menguasai keseluruhan pribadinya,
ia akan mengalami gangguan nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat,
keringat, tekanan darah tinggi/lemah. Sikapnya bisa apatis atau bisa juga
terlalu gembira dengan melampiaskan dalam gerakan-gerakan lari-larian,
menyanyi, tertawa atau berbicara. Sikap ini dapat pula berupa kesedihan
menekan, tidak bernafsu, tidak bersemangat, gelisah, resah, suka mengeluh,
tidak mau berbicara, diam seribu bahasa, atau termenung, menyendiri.
BAB 14 & BAB 15
Manusia Dan Harapan
Manusia Dan Harapan
1. Pengertian Harapan
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga
harapan berarti sesuatu yang di inginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan
menyangkut masa depan.
Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari
kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian
akan bebuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini
bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada
kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak
orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau
berusaha.
Bila di bandingkan dengan cita-cita, maka
harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada
umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita ada persamaan,
yaitu :
§ Keduanya menyangkut masa depan karena belum
terwujud.
§ Pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan
orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.
2.
Apa Sebab Manusia Mempunyai Harapan
Menurut kodratnya manusia itu adalah makhluk
sosial. Setiap manusia lahir ke dunia ini langsung disambut dalam suatu
pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat
lainnya. Di tengah-tengah manusia lain itulah seseorang dapat hidup dan
berkembang fisik dan jasmani, serta mental dan spiritualnya.
Ada dua hal yang mendorong manusia hidup
bergaul dengan manusia lain, yaitu : dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan
hidup.
1.
Dorongan
Kodrat
Kodrat ialah sifat,
keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak
manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya : menangis, bergembira, berpikir,
bercinta, berjalan, berkata, dan mempunyai keturunan. Setiap diri manusia
mempunyai kemampuan untuk itu semua dan dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai
keinginan dan harapan.
Dalam diri manusia
masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup
bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan
kodrat ini manusia dapat mempunyai harapan.
2.
Dorongan
Kebutuhan Hidup
Sudah menjadi kodrat bahwa manusia
mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis
besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan
jasmani, misalnya makan, minum, pakaian, dan rumah. Sedangkan kebutuhan rohani,
misalnya kebahagiaan, kepuasan, keberhasilan, hiburan dan ketenangan.
Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia
harus bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan
manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikir. Dan
dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia
mempunyai harapan, karena pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia
itu, Abraham Maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi macam. Lima macam
kebutuhan itu merupakan lima harapan manusia, yaitu :
1) Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
(survival)
2) Harapan untuk memperoleh keamanan (safety)
3) Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk
mencintai dan dicintai (being loving and love)
4) Harapan untuk memperoleh status atau diterima
atau diakui lingkungan (status)
5) Harapan untuk memperoleh perwujudan dan
cita-cita (self-actualization)
3.
Pengertian Doa
Di Indonesia memiliki ragam agama, antara lain
Islam, Kristen, Hindu, Budha dan konghucu. Setiap orang yang beragama pasti
berdoa. Doa menjadi bagian penting bagi kehidupan manusia yang beragama.
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, doa adalah permohonan kepada Tuhan
YME. Berarti doa adalah suatu permohonan
yang ditujukan kepada Tuhan yang di dalamnya ada harapan, permintaan.
Doa adalah permohonan kepada Allah yang
disertai kerendahan hati untuk mendapatkan suatu kebaikan dan kemaslahatan yang
berada di sisi-Nya. Sedangkan sikap ‘khusyu’ dan ‘tadharru’ dalam menghadapkan
diri kepada-Nya merupakan hakikat pernyataan seorang hamba yang sedang
mengharapkan tercapainya sesuatu yang dimohonkan.
Doa sebagai perbuatan tertinggi yang dapat
dilakukian roh manusia, dapat juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah.
Seseorang berdoa karena Allah telah menyentuh rohnya.
Doa adalah relasi antara manusia dengan Allah
yang didalamnya manusia, roh manusia berkomunikasi, memohon, meminta, memuji,
dan mengakui keberadaan Allah yang trasedental.
4.
Kepercayaan
Kepercayaan
berasal dari kata percaya,
artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang
berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Maka jelaslah kepada kita, bahwa dasar
kepercayaan itu adalah kebenaran.
Ada jenis pengetahuan yang dimilik seseorang,
bukan karena merupakan hasil penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari
orang lain. Kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu
disebabkan karena orang lain itu dapat dipercaya. Yang diselidiki bukan lagi
masalahnya, melainkan orang yang memberitahukan itu dapat dipercaya atau tidak.
Pengetahuan yang diterima dari orang lain atas kewibawaannya itu disebut
kepercayaan. Makin besar kewibawaan yang memberitahu mengenai pengetahuan itu
makin besar kepercayaan.
Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang
dianggap diwahyukan artinya diberitahukan oleh Tuhan - langsung atau tidak
langsung kepada manusia. Kewibawaan pemberi kebenaran itu ada yang melebihi
besamya . Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Hak
berpikir bebas, hak atas keyakinan sendiri menimbulkan juga hak ber agama
menurut keyakinan.
Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib
menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu, Dasarnya ialah
keyakinan masing-masing.
5.
Kepercayaan Dan Usaha Untuk Mengkaitkannya
Dasar kepercayaan ialah kebenaran. Sumber
kebenaran adalah manusia, oleh karena itu kepercayaan terdiri atas :
1)
Kepercayaan
pada diri sendiri
Kepercayaan yang harus kita tanamkan pada
setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri pada hakekatnya kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Percaya pada diri sendiri, menganggap dirinya tidak
salah,dirinya menang,dirinya mampu mengerjakan yang di percayakan kepadanya.
2)
Kepercayaan
kepada orang lain
Percaya pada kata hatinya yang berbentuk
perbuatan kebenaran kepada orang lain. Misalnya, pada orang tua, saudara,
teman, dan siapa saja.
3)
Kepercayaan
kepada pemerintah.
Berdasarkan pandangan teokratis menurut etika,
filsafat tingkah laku karya Prof.Ir, Poedjawiyatna, negara itu berasal dari
Tuhan. Tuhan langsung memerintah dan memimpin bangsa manusia, atau
setidak-tidaknya Tuhanlah pemilik kedaulatan sejati, Karena semua adalah
ciptaan Tuhan. Semua mengemban kewibawaan, terutama pengemban tertinggi, yaitu
raja, langsung dikaruniai kewibawaan oleh Tuhan, sebab langsung dipilih oleh
Tuhan pula (kerajaan).
Pandangan demokratis mengatakan bahwa
kedaulatan adalah dari rakyat, (kewibawaan pun milik rakyat. Rakyat adalah
negara, rakyat itu menjelma pada negara. Satu-satunya realitas adalah negara).
Manusia sebagai seorang (individu) tak berarti. Orang. mempunyai arti hanya
dalam masyarakat, negara. Hanya negara sebagai keutuhan (totalitas) yang ada,
kedaulatan mutlak pada negara, negara demikian itu disebut negara totaliter.
satu-satunya yang mempunyai hak ialah negara; manusia perorangan tidak
mempunyai hak, ia hanya mempunyai kewajiban (negara diktator)
Jelaslah bagi kita, baik teori atau pandangan
teokratis ataupun demokratis negara atau pemerintah itu benar, karena Tuhan
adalah sumber kebenaran. Karena itu wajarlah kalau manusia sebagai warga negara
percaya kepada negara/pemerintah.
4)
Kepercayaan
pada Tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan yang maha kuasa itu
amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya, tetapi
diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan
kebenaran. Kepercayaan itu amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan
rasa manusia dengan Tuhannya. Bagaimana Tuhan dapat menolong umatnya, apabila
umat itu tidak mempunyai kepercayaan kepada Tuhannya, sebab tidak ada tali
penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya. Oleh karena itu jika manusia
berusaha agar mendapat pertolongan dari padanya, manusia harus percaya kepada
Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan
akan adanya zat yang maha tinggi yang menciptakan alam semesta se isinya
merupakan konsekuensinya tiap-tiap umat beragama dalam melakukan pemujaan
kepada zat tersebut.
Berbagai usaha dilakukan manusia untuk
meningkatkan rasa percaya diri kepada Tuhannya. Usaha itu bergantung kepada
pribadi kondisi,situasi, dan lingkungan. Usaha itu antara lain :
§ Meningkatkan ketaqwaan kita dengan jalan
meningkatkan ibadah.
§ Meningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat.
§ Meningkatkan kecintaan kita kepada sesame
manusia dengan jalan menolong,dermawan, dsb.
§ Mengurangi nafsu mengumpulkan harta yang
berlebihan.
§ Menekan perasaan negative seperti
iri,dengki,fitnah, dsb.
Sumber
: